Asal usul Giriharja dan Abeng Sunarya
1. Asal Usul Dinasti Sunarya
Dinasti Sunarya (kadang disebut Dinasti Giriharja) bermula dari Abeng "Abah Sunarya", dalang wayang golek legendaris asal Jelekong, Kabupaten Bandung.
Abah Sunarya lahir 2 Januari 1920 dan belajar mendalang dari ayahnya, dan dari dalang-dalang lainnya di Bandung.
Pada 1957, Abah Sunarya mendirikan Padepokan Pusaka Giri Harja yang terkenal sebagai hub seni wayang golek purwa dan dengan kekayaan seni dan ketajamannya, menarik pengunjung luar negeri, Swedia dan Perancis.
Antropolog Sarah Anaïs Andrieu juga menyebutkan bahwa skill Sunarya sangat kaya karena warisan dari ayahnya, Abah Juhari.
2. Peran Dinasti dalam Seni Wayang Golek
Dinasti Sunarya tidak terbatas pada satu orang: dari berbagai generasinya, descendants Sunarya banyak yang devenir dalang dan melanjutkan seni wayang golek di Jelekong.
Giriharja, seni tersebut, berkembang lebih lanjut dengan beberapa cabang/generasi: Giriharja 1,2,3,4,5 dan seterusnya.
3. Garis Keturunan — Anak, Cucu, dan Penerus Dalang
Dari Abah Sunarya, 13 anak dan cucu terkenal: Ade Kosasih Sunarya, Nanih Kurniasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Ugan Sunagar Sunarya, Asep Sunandar Sunarya, Agus Muharram Supangkat.
Dari cucu-cucunya dan cicit-cicit yang luar biasa: Iwan Rudiana Sunarya, Dede Candra Sunarya, Kiki Mardani Sunarya, Kanha, Raden, Zacky, Rahmatika Sunandar Sunarya, Muhammad Wisnu , Rudi Sunagar Sunarya, Tresna Sunagar Sunarya, Raka Albari Sunarya, dan lain-lain.
4. Warisan dan Pengaruh Budaya
Dinasti Sunarya (Giriharja) diidentifikasi sebagai pusaka budaya wayang golek Sunda dan seni pedalangan tradisional, yang dengan kekayaan seni budaya dan moral, mengembangkan seni dan traditional.
Abeng Sunarya adalah salah satu tokoh penting dari keluarga besar seni wayang golek Sunda. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi kuat terhadap pengembangan seni pedalangan, baik melalui pertunjukan, pelatihan, maupun pelestarian nilai-nilai budaya. Dalam lingkup keluarga Sunarya yang terkenal sebagai “trah dalang”, Abeng Sunarya dikenal memiliki karakter tegas, berwibawa, sekaligus halus dalam tutur dan sikap—mewakili perpaduan antara kekuatan dan kehalusan seni sunda.
Keturunan Abeng Sunarya dikenal sebagai generasi penerus yang tetap membawa spirit seni dan budaya keluarga. Mereka dibesarkan dalam atmosfer kreatif Giri Harja, tempat seni bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan.
Mewarisi bakat seni — terutama dalam dunia pedalangan, karawitan, dan seni suara Sunda.
Menjunjung tinggi budaya leluhur, dengan tetap menjaga ajaran moral, spiritual, serta filosofi wayang golek.
Aktif terlibat dalam kegiatan kesenian, baik dalam pementasan, latihan, maupun kegiatan budaya di lingkungan keluarga Sunarya.
Memiliki karakter rendah hati, dekat dengan masyarakat, dan membawa nama besar keluarga dengan penuh tanggung jawab.
Menjadi penerus trah dalang, baik secara langsung maupun melalui kontribusi terhadap lingkungan seni tradisional.
Walau setiap individu memiliki jalannya masing-masing, keluarga besar Abeng Sunarya tetap menjadi salah satu pilar penting dalam melestarikan mahakarya budaya Sunda, sekaligus menjaga api kreativitas yang telah diwariskan turun-temurun.
Komentar
Posting Komentar